Bila aku kini ada di hadapanmu, jujur saja selama ini masih karena penghargaanku atas penantian panjangmu. sebelumnya aku memang tidak sadar bahwa engkau telah tumbuh di dalam kebun kehidupanku. Engkau mengakui saat itu aku sedang sibuk merawat mawar, hingga kuncupmu pun malu-malu untuk mekar. Mawar telah menelantarkan aku untuk insyaf bahwa di sekelilingku ada bermacam puspa lain termasuk kamu. Sejatinya memang begitu, bila aku sibuk melirik bunga-bunga yang lain bisa-bisa mawar tak terurus. Sungguh mawar tak menghendaki itu. pernah kudatangi teratai yang tumbuh di danau di tengah hutan kenangan, seketika mawar tebarkan aroma tak sedap. Padahal tujuanku ke sana bukan untuk memindahkannya kembali ke taman hatiku. Apa yang hendak kuperbuat sudah dijelaskan sebelumnya pada beliau bahwa ini demi "kemanusiaan". Ia senang bila aku menjadi orang yang baik dan karena baiknya aku pula ia tetap tebarkan wanginya hanya untukku. Namun, amal baik yang boleh kuperbuat itu rupanya ada pengecualian, tidak untuk spesies yang namanya bunga. Bila tumbuhmu kerdil, lalu perlahan engkau menjadi subur sebab disiram dan dipupuk orang nan lalu, tentu, aku tak berhak menyalahkanmu. Kini mawar itu telah dalam genggaman orang lain meski begitu, aku tak mau jadi hipokrit, bahwa aromanya masih selalu tercium oleh hidungku. Tidak hanya itu, ia juga meninggalkan duri kepedihan, walau kutahu itu bukan salahnya. Tak sedikitpun terbersit dalam hatinya untuk meninggalkan aku dalam luka. Engkau tahu? Kujumpai mawar saat itu tumbuh di lahan yang gersang. Tanpa niat untuk memiliki kusirami dengan oase tanpa warna pupuk seadanya. Rupanya diam- diam ia berbunga. Ia lekat dalam hatiku menaruh simpati, ia preteli perlahan sejarah hiduku dari beberapa sumber yang ia anggap sahih pengetahuannya tentang aku. Sementara yang dapat ia simpulkan bahwa hidupku penuh liku. Mawar mencoba memahaminya. Pernah suatu waktu, ketika ia merasa sudah begitu dekatnya denganku, dan ingin mengorek sepenggal kisah dari mulutku secara langsung, sementara aku masih begitu enggan, mawar mengancamku,"CUKUP SAMPAI DI SINI KITA KENAL!",setengah berteriak. Aku kaget. Melihat sekeliling. beberapa pasang mata menikam ke arah. saat percakapan itu memang kami lagi sebuah kafe di bilangan pajak USU. Waktu berlalu begitu cepat, dari sepenggal kisah yang kuutarakan ia kagum dan begitu simpatinya. Setelah mawar mengenalku kian dalam sampai ke segala sudut lahir batinku. aku pernah berniat meninggalkanya dengan alasan ini demi kebaikan dia ke depan. Bukan maksudku mendahului takdir Tuhan, aku takut keburu tiada dan otomatis tak bisa merawatnya lagi.
Pagi sedikit kelabu, di saat burung - burung bernyanyi di bawah semburat cahaya mentari, mawar meneteskan butiran bening dari kelopak matanya. mengalir tak terbendung hingga beberapa tempo lamanya. di sela- sela isaknya ia bertanya, "MENGAPA TEGA? aku hanya diam di tengah keheningan yang kacau,
Aku coba menelaah kembali apa yang telah kuputuskan, aku akui, sejak kehadirannya banyak perubahan dalam hidupku, bergeloranya rasa optimis menjalani hidup setelah cukup lama meredup. Dan ia mampu meyakinkanku bahwa akulah pilihan tepat buat mendampingi hidupnya.
"A..." begitu ia menyapaku, "asal A tahu, ya! kalaau memang penyakit yang a derita itu menular dan buat a tidak berumur panjang, biarlah adek orang pertama yang ketularan lalu mati menyusul Aa". Ikrar itu yang akhirnya membuat aku menarik kembali keputusan itu. Apa yang diucapakannya tidak sekadar hiasan bibir, tapi ia telah memberikan "garansi" atas seluruh jiwa raganya.( bersambung...)
Melati...
Atas apa yang telah terjadi pada diri ini, kuharap engkau mengerti, bahwa perhatian yang kuberikan padamu tidak lagi bisa sempurna. Itulah yang tersisa atau mungkin telah tiada. Aku tak bermaksud membanding-bandingkanmu bila aku bercerita tentang mawar atau bunga yang lain. Karena bagiku engkau tetap melati yang punya spsesifikasi unik. Unik! Ya unik, karena engkau tumbuh dalam perjalanan waktu lumayan panjang. kini aku telah sadar bahwa di sisiku ada kamu yang selalu tebarkan wangi hanya untukku. Aku mengerti hal yang paling tidak disukai wanita adalah ketika pasangannya bercerita tentang wanita lain, aku janji, sedapat mungkin aku tidak akan bercerita lagi soal bunga-bunnga yang lain di hadapanmu, kecuali lewat blog ini, karena cuma blog ini yang amat mengerti segala rasaku. Aku mencoba mengubur semua jejak tentang mawar. Tapi, tak bisa dipungkiri, kadang kukelepasan menebarkan aroma nostalgia yang kupikir tak bisa tergantikan oleh hadirnya anthurium sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar